Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

Pada saat kita periksa darah lengkap, seringkali hasil LED juga keluar tanpa kita mengetahui apa artinya. Apa itu LED? Sesuai namanya, pemeriksaan LED atau laju endap darah (ESR; erythrocyte sedimentation rate) adalah pemeriksaan darah dengan mengukur kecepatan pengendapan dari sel darah merah  pada plasma yang diukur dalam satu waktu tertentu. Pemeriksaan ini tidak spesifik untuk suatu penyakit, jadi banyak sekali keadaan yang dapat meningkatkan nilai LED.

Pada infeksi akut dan kronis, inflamasi, keganasan, dan nekrosis atau infark jaringan akan terjadi peningkatan protein plasma yang menyebabkan sel darah merah memiliki kecenderungan menempel satu sama lain. Hal ini akan meningkatkan berat sel darah merah dan lebih cepat mengendap. Sehingga pada beberapa penyakit tersebut nilai LED akan meningkat. Pada beberapa penyakit, LED dapat digunakan untuk melihat perjalanan penyakit dan memonitor pengobatan. Secara umum, jika penyakit memburuk nilai LED akan meningkat, dan sebaliknya jika penyakit membaik LED turun.

Perlu diingat bahwa nilai LED yang naik tidak melulu karena penyakit. Terdapat beberapa keadaan yang secara normal dapat meningkatkan nilai LED, antara lain kehamilan (setelah minggu ke-12), setelah melahirkan, menstruasi, dan pengobatan dengan metildopa, kontrasepsi oral, penisilamin, dan teofilin.

Nilai normal LED:

  • Pria <15 mm/jam
  • wanita <20 mm/jam
  • anak <10 mm/jam
  • bayi baru lahir 0-2 mm/jam.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber: Diagnostic and Laboratory Test Reference dan Manual of Laboratory and Diagnostic Tests

Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase) atau disebut juga AST (aspartate transferase) dapat ditemukan di jantung, hati, otot rangka, otak, ginjal, dan sel darah merah. Peningkatan SGOT dapat meningkat pada penyakit hati, infark miokard, pankreatitis akut, anemia hemolitik, penyakit ginjal akut, penyakit otot, dan cedera.

Sedangkan SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase) atau disebut juga dengan ALT (alanine transferase) terutama ditemukan di hati, dan sedikit di ginjal, jantung, dan otot rangka. Penyakit pada jaringan hati menyebabkan ensim ini keluar ke dalam darah, sehinga kadarnya meningkat. Jadi SGPT lebih sensitif dan spesifik pada jaringan hati daripada SGOT. Secara umum, peningkatan SGPT disebabkan oleh penyakit hati. Pada penyakit hati selain dari virus, rasio SGPT/SGOT (DeRitis ratio) <1, sedangkan hepatitis virus rasio SGPT/SGOT >1.

Kedua ensim tersebut bisa meningkat tanpa adanya penyakit yang mendasari, seperti latihan atau olahraga yang berlebihan, sebelumnya dilakukan suntikan intramuskuler, dan pemberian obat-obatan.

Kadar normal SGOT: 4-35 unit/L; SGPT: 4-36 unit/L (bervariasi tergantung laboratorium yang memeriksa)

 

Sumber: Diagnostic and Laboratory Test Reference, 2009

Indikasi BMP (punksi sumsum tulang)

BMP (Bone Marrow Puncture) atau punksi sumsum tulang merupakan tindakan medis diagnostik yang seringkali diperlukan untuk membantu diagnosa suatu penyakit. Selain itu juga digunakan untuk penentuan tahap dan monitoring terapi. Sehingga perlu diketahui beberapa indikasi untuk dilakukannya BMP.

Beberapa indikasi BMP adalah :

1. Diagnosis, penentuan tahap dan evaluasi pengobatan :

a. kanker darah atau leukemia

b. multiple myeloma

c. kelainan lymphoproliferatif dan myeloproliferatif yang lain

2. Evaluasi dari sitopenia (menurunnya jumlah sel, contohnya trombositopenia, anemia, leukopenia, pansitopenia, bisitopenia), thrombositosis, leukositosis, anemia dan status cadangan besi.

3. Kondisi nonhematologik : investigasi panas yang tidak diketahui terutama pada pasien AIDS, mikroorganisme yang terdapat pada sumsum tulang seperti tuberculosis, Mycobacterium Avium Intracellulare (MAI), histoplasmosis. Leishmaniasis dan infeksi jamur yang lain.

4. Penilaian kanker yang telah metastase atau menyebar

Juga terdapat indikasi relatif, yaitu :

1. ITP (idiopathic tombocytopenic purpura).

2. Peningkatan level serum paraprotein.

3. Anemia defisiensi besi.

4. Defisiensi B12/Folat.

5. Polycitemia vera.

6. Infeksi mononucleosis.

Semoga bermanfaat…

 

Dikutip dari berbagai sumber

Beda Hasil Laboratorium Anemia Kurang Besi dan Anemia karena Penyakit Kronis

Anemia kurang besi dan anemia karena penyakit kronis adalah dua dari beberapa diagnosa banding gejala anemia. Keduanya perlu dibedakan karena penatalaksanaannya berbeda. Untuk membedakannya, selain dari wawancara dan pemeriksaan fisik dari dokter, tidak jarang pula diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium.

Pada hapusan darah dapat dibedakan dari morfologi sel darah merah. Apabila pada anemia kurang besi sel darah merahnya hipokromik mikrositik, sedangkan pada anemia karena penyakit kronis normokrom normositik. Akan tetapi perlu diingat bahwa pada fase awal anemia kurang besi masih normokrom normositik, dan sekitar 30-40% pasien dengan anemia karena penyakit kronis menunjukkan sel darah merah hipokrom mikrositik.

Pemeriksaan laboratorium yang lain bisa dilihat pada tabel berikut :

 

Cadangan Fe yang dilihat melalui pemeriksaan BMP merupakan gold standard dalam diagnosa anemia kurang besi.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan mendiagnosa penyakit hanya dari satu parameter, tetapi perhatikan parameter yang lain.

Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

PSA, Deteksi Kanker Prostat

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya menulis tentang Prostate Specific Antigen atau biasa disebut PSA.

PSA merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh sel kelenjar prostat yang dapat dideteksi dari darah. Pada laki-laki sehat tanpa kelainan prostat, PSA berada pada kadar yang rendah, dan dapat meningkat apabila terdapat kelainan pada prostat seperti BPH (Benign Prostate Hyperplasia), prostatitis, maupun kanker prostat.

Kadar normal PSA berbeda-beda dari tiap sumber, tetapi rata-rata menyebutkan dibawah 4 ng/ml dengan peningkatan pada tiap usia seseorang. Seperti pada lelaki dengan usia di atas 70 tahun, adalah normal memiliki kadar PSA sampai 6 ng/ml. Kadar PSA antara 4 – 10 ng/ml menunjukkan dugaan adanya kelainan pada prostat, walaupun sebagian besar ternyata normal. Kadar di atas 10 ng/ml kemungkinan dugaan ini meningkat secara drastis.

Skrining kanker prostat direkomendasikan dimulai pada usia 50 tahun ke atas setiap tahun.  Skrining dilakukan oleh dokter dengan cara RT (Rectal Touche) atau DRE (Digital Rectal Examination) dan tes PSA.

Yang perlu diingat adalah tidak semua kanker prostat menunjukkan kenaikan pada kadar PSA dan tidak semua kenaikan kadar PSA menunjukkan adanya kanker prostat. Pemeriksaan oleh dokter, baik itu pemeriksaan fisik seperti RT atau pemeriksaan radiologi,  sangatlah penting dalam proses diagnose pada kelainan prostat. Jadi tidak semata-mata dari hasil laboratorium.

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Pemeriksaan Alfa Feto Protein

Kali ini saya coba menulis tentang beberapa pemeriksaan yang mungkin kurang familiar di telinga kita. Pada lembar permintaan bisa kita lihat ada beberapa item seperti CRP, ASTO, RAF, SI/TIBC,Coomb’s Test, AFP, dan lain sebagainya.

Kita awali dulu dengan pemeriksaan Alfa Feto Protein (AFP). Mungkin di antara kita ada yang pernah diminta oleh dokter untuk kadar AFP. Sebenarnya apakah tujuan dari pemeriksaan ini?

AFP adalah suatu protein plasma yang dihasilkan oleh yolk sac (kantong kuning telur) dan hati selama kehidupan janin. AFP ini diketahui tidak memiliki manfaat pada orang dewasa yang sehat. Jadi, kadar yang meningkat dapat menunjukkan kelainan.

Kadar normal dari AFP adalah di bawah 10 ng/ml. Kenaikan sedang sampai 500 ng/ml dapat terjadi pada penderita hepatitis kronik. Sedangkan  kadar di atas 500 ng/ml hanya terdapat pada :

  1. Kanker hati
  2. Kanker testis dan ovarium
  3. Proses penyebaran kanker yang telah mencapai hati

Pada ibu hamil, pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui adanya cacat lahir, seperti spina bifida, neural tube defect, anencephali, dan sindroma Down. Biasanya dilakukan pada minggu 14-20.

Pemeriksaan AFP juga dapat digunakan untuk melihat respon penderita terhadap pengobatan, contohnya pada penderita kanker hati yang telah dilakukan operasi pembedahan, kadar AFP bisa turun ke level normal.

Semoga bermanfaat.

dari berbagai sumber

HbA1c, Tahu Kepatuhan Pengobatan DM

Kadang dokter meminta pasien penderita diabet untuk memeriksakan kadar HbA1c. Tapi apakah semua tahu manfaat pemeriksaan tersebut? Kebanyakan mungkin hanya mengetahui pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah setelah makan.

HbA1c atau glycosylated hemoglobin adalah suatu bentuk hemoglobin yang menunjukkan konsentrasi glukosa plasma pada periode waktu yang lama. Pasien dengan diabet yang tidak terkontrol, kadar HbA1c lebih tinggi dibandingkan dengan orang sehat dan pasien diabet dengan gula darah terkontrol. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan konsentrasi glukosa darah dari 1-3 bulan sebelum tes.

Estimasi kadar glukosa darah dari HbA1c

Dilihat dari gambar di atas, jadi kadar normal dari HbA1c harus dipertahankan di bawah 6,5%

Jadi gak perlu tes gula darah dong? cukup HbA1c saja? Tidak, pemeriksaan gula darah tetap perlu. Pemeriksaan HbA1c bermanfaat untuk pengendalian gula darah jangka panjang, dengan menilai efektivitas terapi dan kepatuhan penderita selama pengobatan. Sedangkan pemeriksaan gula darah diperlkan terutama untuk melihat adanya perubahan kadar glukosa darah secara mendadak. Jadi pemeriksaan ini saling melengkapi.

Pasien diabetes sebaiknya memeriksakan kadar HbA1c setiap 3 bulan. Pada penderita dengan diabetes yang terkendali, direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap 6 bulan.

Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

Pap Smear untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang kanker serviks (baca : Terhindar dari Kanker Leher Rahim). Sekarang kita membahas tentang metode skrining untuk mendeteksinya, yaitu Pap smear.

Pap smear atau disebut juga tes Papaniculou adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari usapan serviks. Tes skrining ini terbukti dapat mendeteksi dini terjadinya kanker serviks, sehingga mampu menurunkan insiden kanker serviks yang invasif dan memperbaiki prognosis.

Bagaimana cara dilakukannya Pap smear? Bisa kita lihat pada gambar di bawah ini agar lebih jelas

Anjuran untuk melakukan Pap Smear secara teratur pada :

  • Setahun sekali untuk wanita yang berusia 35 tahun
  • Setahun sekali untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau genital wart
  • Setahun sekali bagi wanita yang memakai pil kontrasepsi/KB
  • Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika dalam pemeriksaan Pap’s Smear sebelumnya berturut-turut 3 kali menunjukkan hasil negative atau untuk wanita yang telah menjalani pengangkatan rahim (histerektomi) bukan karena kanker
  • Sesering mungkin jika hasil Pap Smear menunjukkan hasil tidak normal
  • Sesring mungkin setelah pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Adapun syarat-syarat dilakukannya Pap smear adalah :

  1. Sebaiknya datang di luar mensruasi.  Lebih baik pada 2 minggu setelah hari pertama menstruasi
  2. Selama 24 jam sebelum pemerikasaan tidak diperkenankan melakukan pencucian atau pembilasan vagina dan memakai bahan-bahan antiseptik pada vagina.
  3. Penderita paska bersalin, paska operasi rahim, paska radiasi sebaiknya datang 6-8 minggu kemudian.
  4. Penderita yang mendapatkan  pengobatan lokal seperti vagina supostoria atau ovula sebaiknya dihentikan 1 minggu sebelum pap smear.
  5. Tidak melakukan hubungan seksual selama 24 jam sebelum pemeriksaan.
  6. Tidak menggunakan tampon

Kemungkinan hasil yang tertera nantinya adalah :

  1. Class I    :  Normal
  2. Class II   :  Atypical
  3. Class III  :  Abnormalitas ringan, sedang, atau berat
  4. Class VI  : kanker  insitu, dimana telah terdapat sel kanker tapi belum mencapai lapisan terdalam jaringan
  5. Class V  :  Dugaan kanker invasif yang dapat menginfiltrasi dan merusak jaringan sekitar

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Pemeriksaan Darah Lengkap

Mumpung lagi nganggur, sehari posting dua kali aja,hehehe..Kali ini tentang pemeriksaan Darah Lengkap, biasa disingkat DL, atau dalam bahasa inggris Complete Blood Count (CBC)

Sebagian besar dari kita, terutama yang pernah opname, menunggu keluarga yang sedang sakit di rumah sakit, atau check up di laboratorium klinis pasti pernah mendengar tentang darah lengkap. Tapi apakah semuanya mengetahui apakah itu pemeriksaan darah lengkap, tujuan, dan apa saja yang diperiksa?Mari kita coba sedikit membahasnya.

Pemeriksaan darah lengkap (selanjutnya ditulis DL) adalah suatu tes darah yang diminta oleh dokter untuk mengetahui sel darah pasien. Terdapat beberapa tujuan dari DL, di antaranya adalah sebagai pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa, untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit dan untuk melihat kemajuan atau respon terapi.

Bagaimana cara pemeriksaannya? Darah kita diambil dengan menggunakan spuit (suntik) sekitar 2 cc, dimasukkan ke dalam tabung yang telah berisi antikoagulan (EDTA atau sitrat), kemudian dibawa ke laboratorium.

Apa saja yang diperiksa? Yang diperiksa adalah beberapa komponen darah yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keeping darah). Pada lembar hasil DL, yang umum tercatat adalah kadar hemoglobin, jumlah trombosit, jumlah leukosit, dan hematokrit (perbandingan  antara sel darah merah dan jumlah plasma darah.). Kadang juga dicantumkan LED (Laju Endap Darah) dan hitung jenis leukosit.

Hasil DL yang normal adalah (hasil ini bervariasi, tergantung di laboratorium mana kita periksa) :

  1. Kadar Hb : 12-14 (wanita), 13-16 (pria) g/dl
  2. Jumlah leukosit : 5000 – 10.000 /µl
  3. Jumlah trombosit : 150.000 – 400.000 /µl
  4. Hematokrit : 35 – 45 %
  5. LED : 0 – 10 mm/jam (pria), 0 – 20 mm/jam (wanita)

Hasil normal laboratorium lengkap bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya Hasil Lab Normal

Beberapa contoh interpretasi dari hasil DL secara sederhana antara lain bila kadar Hb turun menandakan anemia, leukositnya meningkat melebihi normal mungkin menandakan terjadinya infeksi, trombositnya turun mungkin saja menandakan terjadi infeksi virus, dan lain sebagainya.

Yang perlu diingat adalah pemeriksaan ini adalah penunjang dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter. Jadi diagnosis tidak semata-mata dari hasil laboratorium, tapi yang paling utama adalah dari keadaan klinis dari si sakit.

Semoga bermanfaat..

dari berbagai sumber

Tes Alergi

Tidak sedikit dari kita yang menderita alergi. Manifestasinya bermacam-macam, bisa rhinitis alergi (bersin, hidung mampet,pilek), urtikaria (biduran), konjunctivitis, dermatitis atau eksim, asma, dan lain sebagainya. Tiap orang memiliki sensitivitas yang tidak sama terhadap berbagai allergen. Untuk mengetahuinya, terdapat beberapa tes yang biasa dilakukan.

1. Skin Prick Test (Tes Tusuk Kulit)


Tes ini bertujuan untuk memeriksa sensitivitas terhadap allergen hirup dan makanan, misalnya debu, bulu binatang, udang, dan lainnya. Caranya dengan menusukkan jarum khusus (panjang sekitar 2mm) yang telah berisi allergen pada kulit lengan bawah sisi bagian dalam. Hasilnya dapat diketahui dalam waktu 30 menit. Bila positif akan timbul bentol merah gatal.

Persiapannya tubuh dalam kondisi sehat dan tidak minum obat anti alergi (anti histamin) selama 3-7 hari

2. Patch Test (Tes Tempel)


Tes ini untuk mengetahui alergi kontak terhadap bahan kimia, misalnya pada penyakit dermatitis atau eksim dengan cara menempelkan patch pada daerah punggung. Hasilnya baru dapat dibaca setelah 48 jam. Bila positif akan timbul bercak merah dan melenting pada kulit.

Persiapannya 2 hari sebelum tes tidak boleh minum obat steroid. Daerah punggung harus bebas dari obat oles, krim, atau salep. Dan selama tes tidak boleh berkeringat, mandi, tidur harus telungkup, dan punggung tidak boleh bergesekan.

3. RAST (Radio Allergo Sorbent Test)


Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel darah sebanyak 2 cc dan diproses dengan mesin khusus. Hasilnya dapat diketahui dalam 4 jam. Tujuannya untuk mengetahui alergi terhadap allergen hirup dan makanan. Keuntungan dari tes ini adalah dapat dilakukan pada usia berapapun dan tidak dipengaruhi obat-obatan.

4. Skin Test (Tes Kulit)


Tes ini dilakukan untuk mengetahui alergi terhadap bahan obat-obatan yang disuntikkan. Caranya dengan menyuntikkannya ke lapisan bawah kulit. Hasil tes dibaca setelah 15 menit. Bila positif akan timbol bentol merah dan gatal.

5. Tes Provokasi


Tes ini digunakan untuk mengetahui alergi terhadap obat yang diminum, makanan, dan allergen hirup, contohnya debu.

Semoga bermanfaat..

dikutip dari berbagai sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.425 pengikut lainnya.