Trombositopenia dan Trombositosis

Saat terjadi wabah demam berdarah, mungkin kata-kata yang paling populer muncul adalah trombosit. “Bagaimana trombosit anak saya dokter?”, “Berapa kadar trombositnya dokter?” “Waduh, trombositnya turun terus ya dok?” Dan lain sebagainya. Pada kasus demam berdarah, memang dapat terjadi kadar trombosit yang turun atau istilahnya trombositopenia. Namun trombositopenia bukan milik demam berdarah saja, terdapat beberapa penyakit lain yang dapat menunjukkan kadar trombosit yang rendah. Begitu juga terdapat beberapa penyakit yang dapat menyebabkan peningkatan kadar trombosit di atas nilai normal atau disebut juga trombositosis.

Trombositopenia

Batas bawah kadar trombosit adalah 150.000/µl. Apabila tidak ada kelainan fungsi trombosit, jarang terjadi gejala perdarahan pada kadar trombosit antara 50.000-150.000/µl. Perdarahan spontan minor dan perdarahan setelah dilakukan tindakan pembedahan dapat terjadi pada kadar trombosit antara 20.000-50.000/µl, sedangkan perdarahan yang lebih serius bisa terjadi jika kadar trombosit turun sampai 0-20.000/µl. Penyebab dari trombositopenia bisa dibagi menjadi tiga yaitu menurunnya produksi, meningkatnya penghancuran, dan kelainan distribusi (hipersplenisme).

Perlu diperhatikan juga, kadang jumlah trombosit yang dihitung secara otomatis oleh mesin menunjukkan hasil yang rendah, padahal jumlah yang sebenarnya normal. Hal ini dapat terjadi karena adanya penggumpalan (clumping) trombosit setelah darah dicampurkan dengan antikoagulan EDTA yang menyebabkan trombosit tidak dapat disedot masuk ke dalam mesin. Jadi hasil ini perlu dikonfirmasi secara manual dengan hapusan darah tepi.

Trombosit clumping

Penurunan produksi bisa disebabkan oleh infeksi virus (co: demam berdarah dengue), leukemia, kekurangan vitamin B12 dan asam folat, gagal hati, sepsis, dan beberapa kelainan bawaan seperti anemia Fanconi dan sindroma Alport. Sedangkan peningkatan penghancuran trombosit bisa terjadi pada ITP (Immune Thrombocytopenia), SLE (Lupus eritematosus sistemik), HUS (Hemolytic Uremic Syndrome), TTP (Thrombotic Thrombocytopenic Purpura), infeksi virus, perdarahan masif, obat-obatan, dan kelainan herediter yang lain.

Hapusan darah tepi menunjukkan kesan jumlah trombosit turun

Trombositosis

Peningkatan kadar trombosit biasanya merupakan akibat dari penyakit akut atau kronis yang lain (trombositosis reaktif). Penyebab yang sering adalah keganasan dan peradangan kronis, seperti arthritis rheumatoid. Penyebab yang lain adalah defisiensi besi dan splenektomi. Kadar trombosit biasanya dalam rentang 500.000-1.000.000/µl, tapi bisa juga lebih tinggi. Bahkan dari kasus bulan Agustus lalu, saya menemukan seorang pasien dengan kadar trombosit lebih dari 2.000.000/µl. Selain itu, kadar trombosit bisa meningkat akibat adanya peningkatan produksinya secara otonom pada penyakit mieloproliferatif, contohnya pada trombositosis esensial dan polisitemia vera.

Kesan jumlah trombosit yang meningkat disertai giant trombosit

Dapat kita lihat bahwa terdapat bermacam-macam penyebab terjadinya trombositopenia dan trombositosis pada seseorang. Sehingga dalam mencari penyakit yang mendasarinya perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dahulu dan pemeriksaan penunjang lain yang mungkin diperlukan.

Semoga bermanfaat.

Reaksi Silang (Crossmatch reaction)

Tentu sebagian dari kita sudah mengetahui tentang apa itu reaksi silang atau crossmatch, dan saya yakin banyak di antara kita sudah lupa atau bahkan malah belum pernah mendengar tentangnya. Maka tidak ada salahnya kita sedikit membaca lagi tentang apa itu reaksi silang secara umum.

Reaksi silang adalah suatu jenis pemeriksaan yang dilakukan sebelum pelaksanaan transfusi darah. Tujuannya adalah untuk melihat apakah darah dari pendonor cocok dengan penerima (resipien) sehingga dapat mencegah terjadinya reaksi transfusi hemolitik. Selain itu juga untuk konfirmasi golongan darah.

Macam dari reaksi silang  :

1. Reaksi silang mayor : eritrosit donor + serum resipien

Memeriksa ada tidaknya aglutinin resipien yang mungkin dapat merusak eritrosit donor yang masuk pada saat pelaksanaan transfusi

2. Reaksi silang minor : serum donor + eritrosit resipien

Memeriksa ada tidaknya aglutinin donor yang mungkin dapat merusak eritrosit resipien. Reaksi ini dianggap kurang penting dibanding reaksi silang mayor, karena agglutinin donor akan sangat diencerkan oleh plasma di dalam sirkulasi darah resipien.

Tahapan Reaksi Silang :

1. Reaksi silang salin

Tes ini untuk menilai kecocokan antibody alami dengan antigen eritrosit antara donor dan resipien, sehingga reaksi transfusi  hemolitik yang fatal bisa dihindari. Tes ini juga dapat menilai golongan darah.

2. Reaksi silang albumin

Tes ini untuk mendeteksi antibody anti-Rh dan meningkatkan sensitivitas tes antiglobulin dengan menggunakan media albumin bovine.

3. Reaksi silang antiglobulin

Untuk mendeteksi IgG yang dapatmenimbulkan masalah dalam transfusi yang tidak dapat terdeteksi pada kedua tes sebelumnya. Terutama dikerjakan pada resipien yang pernah menerima transfusi darah atau wanita yang pernah hamil.

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Eritrosit, Sel Darah Merah

Kita semua pasti sudah mengenal apa itu eritrosit atau sel darah merah. Tapi apa salahnya mengulang sedikit pelajaran biologi waktu kita SMA dulu, termasuk pelajaran yang paling susah karena hafalan,hehehe..

Eritrosit merupakan salah satu jenis sel darah yang fungsi utamanya adalah untuk transportasi O2 dan CO2.  Gambaran eritrosit yang normal sudah pernah saya posting sebelumnya (lihat Gambaran Sel Darah Normal) . Jumlah eritrosit normal dalam tubuh kita berkisar antara 4-5 juta/µl (pada wanita) atau 5-6 juta/µl (pada pria). Di dalam sirkulasi darah perifer, pada umumnya eritrosit tidak berinti dengan retikulosit merupakan sel eritrosit termuda.

Tidak boleh kita lupakan juga apabila bicara tentang eritrosit adalah hemoglobin (Hb). Hb merupakan senyawa biomolekul yang mengandung Fe (besi) yang bertanggung jawab atas pengikatan oksigen dan juga warna merah dari eritrosit.

Proses pembentukan eritrosit, yang disebut juga eritropoiesis, terjadi pada sumsum tulang. Pendewasaan sel berlangsung sekitar 7 hari, dengan masa hidup setelah pelepasan dari sumsum tulang lebih kurang 120 hari. Berikut gambar dari proses pembentukan eritrosit :

Seiring dengan berjalannya waktu, eritrosit yang sudah tua, akan dihancurkan oleh sistem retikuloendothelial (hati, limpa, sumsum tulang). Protein yang dihasilkan akan dipecah menjadi asam amino yang dapat dipergunakan lagi. Sedangkan bagian heme dari Hb dipecah menjadi  Fe dan biliverdin, yang nantinya diekskresikan melalui saluran empedu sebagai bilirubin. Proses lengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut ini :

Terdapat beberapa penyakit yang berhubungan dengan sel darah merah, di antaranya adalah anemia, polisitemia, dan kelainan morfologi seperti kelainan bentuk dan ukuran dari eritrosit. Beberapa pembahasan tentang penyakitnya akan saya tulis dalam beberapa hari ke depan.

Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

Hematopoiesis, Pembentukan Sel Darah

Hematopoiesis merupakan proses pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi proliferasi, maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.

Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.

Proses yang terjadi bisa lebih jelas dilihat melalui gambar di bawah ini :

Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :

1. Mesoblastik

Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah HbG1, HbG2, dan Hb Portland.

2. Hepatik

Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.

3. Mieloid

Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan faktor- faktor perangsang hematopoietik.

Di bawah ini saya menemukan video dari Youtube.com tentang hematopoiesis yang menarik untuk dilihat.

Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

Gambaran Eritrosit Abnormal

Disini akan sedikit kita bahas beberapa gambaran abnormal dari sel darah merah atau eritrosit yang bisa kita temukan pada saat pemeriksaan hapusan darah.

Hipochrome

Gambaran sel darah merah yang hipokrom dapat ditemukan pada anemia kurang besi (defisiensi fe), sickle cells anemia, thalassemia, atau anemia karena penyakit kronis. Selain dari hapusan, dapat juga kita lihat dari hasil pemeriksaan darah MCH < 26 pg dan MCHC < < 32%

Makrositik

Gambaran makrositik  berarti volume eritrosit lebih besar dari normal. Dapat ditemukan pada penyakit anemia megaloblastik karena kurang vit.B12 atau asam folat, anemia setelah perdarahan akut, atau anemia karena penyakit hati kronik. Dari data pemeriksaan darah ditemukan MCV > 94 fl

Target Cell

Gambaran ini dinamakan sel target karena bentukannya mirip dengan sasaran tembak. Dapat ditemukan pada Thalassemia disertai gambaran aniso-poikilositosis, polikromasi, hipokrom-mikrositik, dan bintik basofil.

Bintik basofil

Poikilositosis

Seperti telah dibahas di atas, dua gambaran ini bisa ditemukan di thalassemia. Selain itu, bintik basofil dapat ditemukan pada anemia sideroblastik dan keracunan timbal. Sedangkan poikilositosis merupakan kondisi kelainan bentuk baik sebagian bentuk dari eritrosit normal atau bentuk yang benar-benar berbeda. Kondisi ini bisa ditemukan pada berbagai kelainan karena tidak spesifik, seperti pada thalassemia, anemia karena defisiensi vitamin B12 atau asam folat, atau bisa juga pada coeliac disease.

Gametosit

Ring Form

Kedua gambaran ini dapat ditemukan pada pasien malaria. Prosedur pemeriksaannya dengan tetes tebal dan tetes tipis. Pada pemeriksaan ini dapat juga ditemukan skizon dan eritrosit yang telah pecah karena hemolisis.

Gambaran yang lain :

Aglutinasi

Akantosit

Sel Sabit

Sferosit

Howell Joly Bodies

Skistosit

Sementara ini dulu..semoga bermanfaat..

dikutip dari berbagai sumber

Gambaran Sel Darah Normal

Di bawah ini saya upload beberapa gambaran sel darah normal pada hapusan darah tepi beserta sedikit penjelasan. Untuk yang abnormal saya upload pada postingan berikutnya karena banyak sekali..

1. Sel Darah Merah/Eritrosit

  • Ukuran: 6 – 9 mm
  • Bentuk: bulat
  • Warna sitoplasma: merah jambu atau abu-abu
  • Granularitas: tidak ada
  • Distribusi dalam darah: > 90 % dari eritrosit normal dalam darah
2. Keping darah/trombosit
  • Ukuran: 1 – 4 mm
  • Bentuk: bulat atau oval, dengan pinggir tidak teratur
  • Warna sitoplasma: biru
  • Granularitas: granul ungu halus mengisi bagian tengah trombosit Pinggir tipis tanpa granul pada bagian tepi sel

3. Limfosit

  • Ukuran: 10 – 15 mm
  • Bentuk: bulat, kadang-kadang oval
  • Warna sitoplasma: biru
  • Granularitas: tidak ada
  • Bentuk inti: bulat atau agak oval
  • Tipe kromatin: homogen, padat
  • Rasio inti/sitoplasma:  tinggi atau sangat tinggi
  • Nukleolus: tidak terlihat, kadang-kadang hampir tidak terlihat , satu nukleolus kecil
  • Distribusi: darah: 25 – 40 % ; sumsum tulang: 5 – 20 %

4. Netrofil Stab

  • Ukuran sel: 14 – 20 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pink
  • Granularitas: a few azurofilik and neutrofilik, different in number
  • Bentuk inti: semicircular
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma:  low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: < 5% ; sumsum tulang: 5 – 20 %

5. Netrofil Segmen

  • Ukuran sel: 14 – 20 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pink
  • Granularitas: a few azurofilik and neutrofilik, different in number granulation
  • Bentuk inti: lobulated (normally less than 5 lobes)
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma: low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: 40 – 75 % ; sumsum tulang: 5 – 20 %

6. Eosinofil

  • Ukuran sel: 15 – 25 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pale, covered by granules
  • Granularitas: abundant eosinofilik (orange-red)
  • Bentuk inti: lobulated, semicircular
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma: low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: 2 – 4 %;  sumsum tulang: < 2 %

7. Monosit

  • Ukuran: 15 – 25 mm
  • Bentuk: bulat, oval atau tidak teratur
  • Warna sitoplasma: abu-abu biru
  • Granularitas: tidak ada atau sedikit granul azurofilik halus
  • Bentuk inti: biasanya tidak teratur
  • Tipe kromatin: kromatin kasar, berkelompok
  • Rasio inti/sitoplasma: sedang atau rendah
  • Nukleolus: tak terlihat
  • Distribusi: Darah: 4 – 8 % ; sumsum tulang: < 2 %

8. Basofil

  • Ukuran sel: 12 – 18 mm
  • Bentuk sel: round or oval
  • Warna sitoplasma: light-pink, mostly covered by granules and nucleus
  • Granularitas: veri dark, basofilik, granules of various size. The amount varies
  • Bentuk inti: oval shaped in not mature forms; lobular shaped in mature forms
  • Tipe kromatin: condensed, pale
  • Ratio inti/sitoplasma:  low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: < 1 % ; sumsum tulang: < 1 %

Semoga bermanfaat..

dikutip dari berbagai sumber