Test Baru yang Berpotensial dalam Diagnosa Dini Osteoartritis Telah Ditemukan

Peneliti di King’s College London’s Department of Twin Research and Genetic Epidemiology, di St. Thomas ‘Hospital telah menemukan cara baru untuk mengukur tanda-tanda biologis dalam darah yang dapat digunakan untuk mendiagnosa osteoarthritis sebelumnya.

Osteoarthritis adalah kondisi yang mempengaruhi sendi dan merupakan jenis yang paling umum dari artritis di Inggris. Hal ini terutama terjadi pada lutut, pinggul, dan sendi kecil tangan, tapi hampir semua sendi dapat terpengaruh.

Uji biokimia baru yang disebut metabolomik memungkinkan para ilmuwan untuk menguji 163 sinyal kimia pada saat yang sama dari sampel darah tunggal. Sinyal-sinyal kimia produk antara dari metabolisme sel manusia dan 26.000 rasio metabolit mereka merupakan laju reaksi kimia dalam tubuh manusia.

Pertama-tama tim mempelajari 123 perempuan kulit putih dengan osteoarthritis lutut dan 299 wanita sehat dari Twins UK register, membandingkan perbedaan metabolit dan 26.000 rasio metabolit antara dua kelompok. Mereka menemukan bahwa 14 rasio metabolit secara bermakna berhubungan dengan osteoarthritis. Tim ini kemudian menguji sinyal-sinyal tersebut untuk melihat apakah terjadi replikasi sinyal dalam sampel independen yang terdiri dari 76 wanita dengan arthritis lutut dan 100 perempuan sehat. Dua rasio – valin ke histidin dan xleucine ke histidin – berhasil dikonfirmasi dalam replikasi sampel.

Dr Guangju Zhai, penulis utama pada makalah yang diterbitkan di jurnal, Annals of Rheumatic Diseases, mengatakan: “Osteoartritis diperkirakan mempengaruhi  8.500.000 orang di Inggris dan salah satu ciri utamanya adalah kerusakan pada tulang rawan, otot halus kuat yang membatasi tulang dan memungkinkan  sendi untuk bergerak dengan mudah dan tanpa gesekan. Pencarian untuk biomarker, atau ciri-ciri, yang dapat digunakan untuk mengukur atau menunjukkan pengaruh atau kemajuan kondisi merupakan area yang sangat menarik dari penelitian klinis. Dua biomarker metabolic baru ditemukan melalui penelitian kami bisa menunjukkan peningkatan kerusakan tulang rawan dan kami sekarang ingin mempelajari mekanisme ini lebih terinci. ”

Professor Tim Spector, penulis senior makalah ini menambahkan: “Penelitian kami adalah studi pertama yang menggunakan metabolomik pendekatan untuk mengidentifikasi biomarker metabolik baru untuk osteoartritis. Kami berharap dengan penelitian lebih lanjut kedua rasio metabolit ini dapat diadopsi dalam praktek klinis, memungkinkan dokter mendiagnosa atau mengidentifikasi osteoarthritis yang sedang berkembang, sebelumnya Studi kami juga menunjukkan potensi besar klinis metabolomik dan kami berharap di masa depan dapat digunakan untuk memantau efektivitas perawatan. Pada saat ini kita tergantung pada roentgen – dan ketergantungan kita pada metode ini adalah suatu hambatan yang besar untuk pengembangan obat baru untuk osteoartritis. ”

Sumber : Medicalnewstoday.com

Bantahan terhadap Spam tentang Aspartame

Akhir-akhir ini beredar berita spam tentang bahayanya aspartame melalui sms, YM, milis, dan BBM. Tentang aspartame yang bisa menyebabkan pengerasan otak dan sumsum tulang. Perlu diketahui bersama, berita ini adalah tidak benar. Berikut saya copas berita yang saya terima via sms dan BBM.

“Dr. IKATAN DOKTER INDONESIA/IDI: saat ini sedang terjadi wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang, jangan minum produk : extrajoss, M-150, kopi susu, kiranti, kratingdaeng, hemaviton, neohemaviton, marimas, hore, frutilo, segar sari, pop ice, segar dingin vit C, okky jelly drink, inaco, nabati, adem sari, natorade gold, aqua spalsh karena mengandung racun Aspartame yang mematikan. tolong di terukan ke orang orang yang kita sayangi”

Padahal menurut penelitian terakhir, aspartame aman digunakan. Hal ini juga dikuatkan oleh BPOM. Berikut saya quote pernyataan dari situs resmi BPOM :

Bantahan Berita dan Informasi terkait Aspartam Sehubungan dengan banyaknya beredar berita terkait dengan Aspartam yang tidak benar dan menyesatkan serta diakuinya berasal dari Organisasi Profesi Kesehatan, dengan ini Badan POM menyampaikan kembali bahwa berita dan informasi tersebut tidak benar seperti apa yang telah disampaikan sebelumnya

  1. Tanggal 12 Februari 2010 Press Release tentang Bantahan Atas Berita Terkait dengan Keamanan Aspartam
  2. Tanggal 12 Juli 2006 mengirimkan surat kepada seluruh pimpinan media cetak dan media elektronik di Indonesia.
  3. Tanggal 25 Agustus 2003 Badan POM mengeluarkan Surat Bantahan berita bahaya aspartam melalui Website di berita aktual dan tanya jawab terkait Aspartam (Q&A)”

Pada press release tanggal 12 Februari 2010 juga disebutkan :

1. Sehubungan dengan adanya berita yang menyebar melalui pesan singkat/sms (short message service) mengenai bahaya penggunaan Aspartam yang disebutkan bersumber dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan ini diberitahukan bahwa sesuai dengan informasi dari Sekretaris Eksekutif – IDI bahwa IDI tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang hal tersebut.

2. Aspartam dikategorikan aman berdasarkan Keputusan Codex stan 192-1995 Rev. 10 Tahun 2009. Codex Alimentarius Commision (CAC) adalah Lembaga Internasional yang ditetapkan FAO/WHO untuk melindungi kesehatan konsumen dan menjamin terjadinya perdagangan yang jujur.

3. Dalam pengaturan Codex disebutkan bahwa Aspartam dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan minuman antara lain minuman berbasis susu, permen, makanan dan minuman ringan.

4. Penggunaan Aspartam dalam makanan dan minuman sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dapat digunakan dengan batas maksimum penggunaannya masing-masing.

5. Dihimbau kepada masyarakat yang memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Badan POM dengan nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau email ulpk@pom.go.id dan ulpkbadanpom@yahoo.com atau Layanan Informasi Konsumen di Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Di era kebebasan informasi, suatu berita atau isu makin cepat berkembang. Kita harus pandai memilah-milah mana informasi yang benar dan mana yang salah.

Semoga bermanfaat…

sumber : http://www.pom.go.id

Kekurangan Tidur pada Anak Meningkatkan Kadar Glukosa Darah

Tim peneliti gabungan China dan Amerika Serikat melaporkan bahwa anak kecil yang tidur rata-rata 8 jam sehari atau kurang pada malam hari, mempunyai resiko lebih tinggi menderita diabetes. Resiko ini lebih tinggi pada anak kecil dengan obesitas. Penelitian ini menyatakan bahwa tidur yang lebih pendek tampaknya mempengaruhi kadar glukosa darah yang tidak tergantung terhadap faktor lain seperti usia, jenis kelamin, pengaruh persalinan, pemberian MPASI, riwayat penyakit, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, dan ukuran lingkar pinggang.

Dalam studi ini, para peneliti menyelidiki durasi tidur dan kadar glukosa darah pada 619 anak obese dan 617 anak non-obese berusia 3 – 6 tahun dan tidak memiliki penyakit diabetes. Laporan yang diberikan oleh orang tua menunjukkan bahwa lebih banyak anak obese (47%) dibanding non-obese (37%) tidur rata-rata 8 jam atau kurang setiap malam. Laporan ini juga menunjukkan bahwa anak obese lebih jarang tidur 9 – 10 jam atau 11 jam atau lebih (37% dan 16%) dibanding anakn non obese (43% dan 20%)

Kadar glukosa puasa tinggi yang didefinisikan sebagai kadar glukosa 100mg/dl atau lebih, ditemukan 1,35 kali lipat dan 2,15 kali lipat lebih sering pada anak non-obese dan obese yang tidur lebih pendek. Secara keseluruhan, 1 anak mempunyai kadar glukosa di atas 126 mg/dl.

Di antara anak yang tidur kurang dari 8 jam semalam, peningkatan kadar glukosa puasa ditemukan pada 23 dari 217 anak non obese dan 49 dari 291 anak obese. Sebaliknya, di antara anak yang tidur 9-10 jam semalam, 21 dari 175 anak non obese dan 21 dari 229 anak obese mempunyai kadar glukosa yang tinggi.

Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa anak yang tidur dalam jumlah mencukupi dapat mempertahankan berat badan sehat dan kadar glukosa darah optimal, dan hal ini mungkin juga berlaku pada orang dewasa. Para peneliti menyatakan perlunya studi lebih lanjut untuk mengonfirmasi hasil studi ini pada populasi anak yang lain.

Sumber : Medical Update

Bagaimana Menghindari Food Comma

Pernahkah Anda mengalami saat sekitar jam 2 siang setelah makan siang mata ini terasa ngantuk sekali? Ingin berdiri dari tempat duduk rasanya malas, badan terasa berat. Inginnya tidur meski sebentar.

Peristiwa ini diistilahkan sebagai food coma. Food coma dipicu oleh kerja sistem metabolisme tubuh yang bekerja ekstra keras. Tubuh kita diibaratkan mesin pengolah sari makanan. Jika makanan yang kita konsumsi jumlahnya besar, otomatis tubuh kita akan bekerja keras. Selain itu, food coma juga dipicu oleh rendahnya kadar gula dalam tubuh. Akibatnya tubuh terasa lelah dan mengantuk. Untuk itu, waktu makan harus disesuaikan dengan bioritme tubuh.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa serangan food coma sering terjadi pada jam-jam berikut :

  • Pukul 10.00 yaitu 2 jam setelah sarapan
  • Pukul 14.00 yaitu 2 jam setelah makan siang
  • Pukul 16.00 yaitu 4 jam sebelum makan malam

Bagaimana kiat menghindari food coma?

  1. Usahakan makan tidak dalam posisi besar
  2. Hindari makanan dengan kandungan karbohidrat yang berlebih
  3. Pada jam-jam setelah makan, usahakan untuk mengkonsumsi camilan yang tinggi protein. Tidak perlu dalam jumlah yang banyak asalkan perut Anda tetap dalam kondisi terisi
  4. Di antara waktu sebelum jam makan, jangan segan-segan untuk makan permen. Pilihlah yang berlabel low fat.

Namun bila sudah terlanjur terjadi food coma, ada beberapa tips yang bisa dilakukan :

  1. Bernapas dalam
  2. Bangun dan jalan-jalan bila memungkinkan
  3. Tekuk badan ke depan (memposisikan kepala di bawah jantung) untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak
  4. Ulangi sekitar 30-60 menit tergantung beratnya food coma

Semoga bermanfaat..

dikutip dari berbagai sumber

Alasan Kita Perlu Memakai Bantal Saat Tidur

Salah satu alasan utama kita menggunakan bantal ada hubungannya dengan hubungan yang rumit antara kepala, leher, dan tulang punggung. Ketika seseorang berjalan tegak pada siang hari, kepala dan leher yang berada di jajaran vertikal di atas tulang belakang dengan pengaturan yang kompleks otot dan tendon. Namun, Selama tidur, banyak dari otot-otot ini yang santai, menyebabkan kepala jatuh ke belakang atau ke depan. Ini menempatkan tambahan tekanan pada otot leher dan tulang belakang, yang pada gilirannya memicu kekakuan pada otot punggung dan tulang belakang.

Solusi untuk situasi menyakitkan ini adalah untuk mengangkat kepala dan leher sampai mereka kembali sesuai dengan tulang belakang, terlepas dari posisi tidur. Cara termudah untuk mencapai keselarasan didukung ini adalah dengan menggunakan bantal hingga sudut yang tepat akan tercapai. Ketika kepala, leher, dan tulang punggung kembali selaras, seseorang harus dapat bernapas lebih mudah dan telah meningkatkan sirkulasi.

Ada beberapa bentuk bantal yang berbeda, semuanya dirancang untuk mengatasi masalah penyelarasan yang berbeda. Sebuah bantal ortopedi yang kebanyakan untuk tidur di malam hari digunakan untuk menjaga agar kepala, tulang belakang, dan lutut didukung dalam posisi tidur yang nyaman. Beberapa orang menggunakan bantal di antara lutut atau paha mereka untuk memberikan dukungan bagi punggung bagian bawah dan pinggul. Sebuah bantal lumbal juga dapat mengisi kesenjangan antara punggung bawah dan kursi atau kasur.

Secara historis, bantal kain pertama dinikmati hampir secara eksklusif oleh keluarga kerajaan dan warga negara kaya lainnya. Warga kelas bawah dan petani mungkin memiliki dasar gaya bantal dari jerami, tetapi kemungkinan besar mereka menggunakan senjata mereka sendiri untuk memberikan dukungan sementara mereka tidur. Meluasnya penggunaan bantal itu tidak mungkin sampai Revolusi Industri membuat produksi grosir kain realitas yang terjangkau.

Budaya kuno tertentu tidak menggunakan bantal terbuat dari kain lembut dan isinya, namun. Bantal sering diukir dari blok keras batu atau kayu, yang tidak tidur menjaga kepala dan tulang belakang sejajar tapi kenyamanan tidak bisa mengklaim sebagai salah satu keuntungan. Syukurlah, di jaman modern ini tersedia bantal empuk dengan busa karet, busa memori terapeutik, atau soba hulls. Triknya adalah untuk menemukan jumlah yang tepat untuk mencapai kesejajaran yang ideal untuk tidur malam.

sumber : http://www.kaskus.us

Mata Minus, Baca sambil Tiduran, dan Lampu

Waktu kita kecil biasanya ibu memarahi kita karena membaca sambil tiduran, katanya nanti matanya rusak. Benarkah demikian? Sebenarnya yang menyebabkan mata minus bukan posisinya melainkan lampu yang menerangi tulisannya. Jadi tidak ada hubungan antara membaca sambil tiduran dengan timbulnya kelainan mata.  Pada posisi membaca sambil duduk, lampu yang menerangi biasanya dating dari atas, sehingga posisi demikian ini dianggap yang paling baik. Namun tidak ada salahnya mengingatkan anak untuk tidak membaca sambil tiduran, apalagi bila penerangan tidak cukup.

Untuk keperluan membaca atau melakukan pekerjaan tangan yang rumit disarankan menggunakan bola lampu susu 40 watt. Sebaiknya sinar dipusatkan pada obyek bacaan atau pekerjaan yang dilakukan. Bola lampu susu tidak silau karena ada filternya. Sedangkan lampu neon tidak disarankan karena sinarnya berupa getaran. Lampu duduk dengan bohlam 60 watt dinilai terlalu terang. Sebaliknya bohlam di bawah 40 watt dinilai terlalu redup.

Bola lampu susu

Kurangnya penerangan yangcukup menyebabkan kerja otot terlalu berat sehingga mata mudah lelah dan pedih. Inilah yang mempercepat timbulnya myopia atau rabun jauh.

Semoga bermanfaat

dikutip dari depkes.go.id

Dokter juga bisa Stress

Jangan dikira seorang yang berprofesi dokter selalu sehat dan bisa mengatas masalahnya. Studi menemukan bahwa penyebab kesalahan medis tertinggi pada pasien berasal dari dokter yang stres dan lelah

kelelahan, stres, dan gejala depresi lainnya ternyata merupakan penyebab dokter menjadi “error”. Bahkan studi yang dipimpin oleh Dr. Colin P West, internist dari Mayo Clinic di Rochester USA menemukan bahwa faktor-faktor error tersebut meningkatkan kesalahan medis hingga 3 kali lipat. Padahal kesalahan medis adalah isu penting saat ini. Menurut laporan dari Institute of Medicine, hampir 100.000 orang di Amerika meninggal setiap tahunnya karena kesalahan medis.

West dan rekannya melakukan survei dari tahun 2003-2008 terhadap dokter yang melakukan medical error. Dari 378 dokter yang disurvei, sebanyak 39 persen dokter mengaku melakukan kesalahan karena faktor kelelahan, depresi, stres, rendahnya kualitas hidup, dan kurang tidur.

Di antara faktor-faktor tersebut, West menemukan faktor stres dan lelah sebagai penyebab tertinggi kelelahan medis. Stres dan lelah menyebabkan otak tidak bekerja maksimal dan akhirnya salah mendiagnosa bahkan bisa menyebabkan kematian.

Masalahnya adalah dengan waktu kerja yang sangat padat, tidak ada sistem yang bisa memonitor kesehatan dokter itu sendiri. Apakah ia kelelahan, kurang tidur, stres, atau ada masalah lainnya. Dokter juga perlu sistem yang mengontrol kesehatannya apalagi untuk dokter-dokter yang sudah berusia di atas 60 tahun.

Dalam Journal of the American Medical Association, para dokter disarankan melakukan meditasi, sadar olahraga, dan juga memahami pentingnya menjalani profesi dokter dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu rasa lelah fisik maupun batin bisa diatasi dan pasien pun tidak menjadi korban kesalahan medis. Intinya adalah mengatur jam biologis tubuh dan segera mengatasi rasa lelah agar bisa menangani pasien dengan aman.

dikutip dari “Media Kesehatan”