Melihat Mekanisme Kompensasi Melalui BGA

Melanjutkan tulisan sebelumnya,tulisan kali ini membahas cara melihat mekanisme kompensasi pada analisa gas darah. Ketika seseorang mengalami gangguan asam basa, tubuh akan melakukan kompensasi.  Respon kompensasi buffer yang utama melalui paru dan ginjal. Tubuh akan mencoba mengatasi kelainan respiratorik atau metabolik sehingga pH akan kembali ke nilai normal.

Pasien dapat tidak terkompensasi, kompensasi sebagian, atau kompensasi sempurna. Jika kelainan asam basa tidak terkompensasi atau hanya terkompensasi sebagian, nilai pH masih berada di luar rentang normal. Sedangkan pada gangguan yang terkompensasi sempurna, nilai pH telah kembali ke rentang normal, walaupun nilai yang lain mungkin masih abnormal.

Untuk mengetahui adanya kompensasi, langkah-langkah yang digunakan sama dengan tulisan saya sebelumnya, Cara Mudah Membaca Analisa Gas Darah :

1.       Lihat pH

Untuk menentukan asidosis atau alkalosis

2.       Lihat PaCO2

Jika PaCO2 dan pH berada pada arah yang berlawanan (contohnya PaCO2 meningkat dan pH turun) maka masalah utamanya adalah pada sistem respiratorik.

Sedangkan jika arahnya sama, contohnya penurunan pH dan penurunan PaCO2, maka masalah utama bukan pada sistem respiratorik, tapi pada sistem metabolik.  Pada kasus ini, penurunan PaCO2 menunjukkan usaha dari paru untuk mengembalikan pH ke rentang normal.  Jika mekanisme kompensasi ini terjadi tapi nilai pH masih di luar rentang normal, maka ini menunjukkan adanya kompensasi sebagian.

3.       Lihat HCO3

Jika pH dan HCO3 pada arah yang sama, menunjukkan masalah utama pada sistem metabolik, dan sebaliknya jika berlawanan maka masalah utama pada sistem respiratorik dengan kompensasi dari sistem metabolik.

Hubungan dari ketiga bagian di atas, bisa dilihat pada tabel berikut:

 

Untuk memudahkan mengingat bagian 2 dan 3, bisa menggunakan akronim ROME pada tulisan sebelumnya.

Semoga bermanfaat

Sumber: Interpretation of the Arterial Blood Gas

Cara Mudah Membaca Analisa Gas Darah

Petugas kesehatan seringkali  kesulitan dalam membaca hasil analisa gas darah (BGA). Kesalahan dalam menginterpretasinya seringkali menyebabkan kesalahan diagnosis. Berikut terdapat beberapa cara mudah dalam membaca hasil BGA:

1.       Lihat pH

Langkah pertama adalah lihat pH. pH normal dari darah antara 7,35 – 7,45. Jika pH darah di bawah 7,35 berarti asidosis, dan jika di atas 7,45 berarti alkalosis.

2.       Lihat CO2

Langkah kedua adalah lihat kadar pCO2. Kadar pCO2 normal adalah 35-45 mmHg. Di bawah 35 adalah alkalosis, di atas 45 asidosis.

3.       Lihat HCO3

Langkah ketiga adalah lihat kadar HCO3. Kadar normal HCO3 adalah 22-26 mEq/L. Di bawah 22 adalah asidosis, dan di atas 26 alkalosis.

4.       Bandingkan CO2 atau HCO3 dengan pH

Langkah selanjutnya adalah bandingkan kadar pCO2 atau HCO3 dengan pH untuk menentukan jenis kelainan asam basanya. Contohnya, jika pH asidosis dan CO2 asidosis, maka kelainannya disebabkan oleh sistem pernapasan, sehingga disebut asidosis respiratorik. Contoh lain jika pH alkalosis dan HCO3 alkalosis, maka kelainan asam basanya disebabkan oleh sistem metabolik sehingga disebut metabolik alkalosis.

5.       Apakah CO2 atau HCO3 berlawanan dengan pH

Langkah kelima adalah melihat apakah kadar pCO2 atau HCO3 berlawanan arah dengan pH. Apabila ada yang berlawanan, maka terdapat kompensasi dari salah satu sistem pernapasan atau metabolik. Contohnya jika pH asidosis, CO2 asidosis dan HCO3 alkalosis, CO2 cocok dengan pH sehingga kelainan primernya asidosis respiratorik. Sedangkan HCO3 berlawanan dengan pH menunjukkan adanya kompensasi dari sistem metabolik.

6.        Lihat pO2 dan saturasi O2

Langkah terakhir adalah lihat kadar PaO2 dan O2 sat. Jika di bawah normal maka menunjukkan terjadinya hipoksemia.

Untuk memudahkan mengingat mana yang searah dengan pH dan mana yang berlawanan, maka kita bisa menggunakan akronim ROME.

Respiratory Opposite : pCO2 di atas normal berarti pH semakin rendah (asidosis) dan sebaliknya.

Metabolic Equal : HCO3 di atas normal berarti pH semakin tinggi (alkalosis) dan sebaliknya.

Semoga bermanfaat

Sumber: 6 Easy Steps to ABG Analysis

Nilai Normal Pemeriksaan Imunologi

Berikut beberapa nilai normal pemeriksaan imunologi yang dilakukan di laboratorium Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Nilai ini bisa berbeda pada tiap-tiap laboratorium, tergantung dari metode yang digunakan.

Semoga bermanfaat

 

Strategi Penatalaksanaan Laboratorium pada Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah penurunan semua fungsi ginjal secara bertahap, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemeriksaan laboratorium sangat penting perannya dalam penatalaksanaan GGK. Tujuannya yaitu memantapkan diagnosis GGK dan menentukan derajat, membedakan proses akut vs kronis, dan identifikasi penyebab.

Untuk memantapkan diagnosis GGK dan menentukan derajatnya, maka perlu pemeriksaan GFR (Glomerular Filtration Rate). Standar baku emas dari pemeriksaan GFR adalah dengan memeriksa kreatinin urin dalam 24 jam. Namun banyak hambatan dalam pengerjaannya karena harus mengumpulkan urin dalam 24 jam penuh. Sehingga digunakan pemeriksaan kliren kreatinin menggunakan ureum dan kreatinin serum. Pemeriksaan klirens kreatinin ini hampir mendekati nilai GFR. Dalam hal ini dapat digunakan rumus Cockcroft-Gault.

Rumus Cockroft-Gault (Fauci et al, 2009)

  

 Klasifikasi GGK (Fauci et al, 2009)

Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk memastikan adanya kerusakan target organ adalah urin rutin untuk melihat albuminuria, elektrolit untuk melihat adanya hipokalsemia, dan darah rutin untuk anemianya.

Membedakan proses akut vs kronis

  • Darah lengkap : pada GGK biasanya terjadi anemia sedang normositik normokromik, sedangkan pada GGA tidak ada anemia.
  • Urin lengkap : pada GGK terjadi albuminuria berat, sedangkan GGA albuminuria sedang dan ditemukan adanya silinder epitel tubulus.
  • Analisa Gas Darah : pada GGK terjadi asidosis metabolik terkompensasi karena prosesnya telah lama, sedangkan pada GGA tidak mampu melakukan kompensasi.
  • Elektrolit : pada GGK telah terjadi kerusakan target organ sehingga terjadi hipokalsemia, sedangkan pada GGA tidak terjadi hipokalsemia.

Penyebab dibagi menjadi prerenal, renal, dan post renal.

  • Renal : albuminuria > 2+, atau 1+ pada pasien DM dan hipertensi, untuk memastikan perlu pemeriksaan GDP/GD 2 jamPP, dan funduskopi.
  • Post renal : hematuria sedang-berat yang disebabkan karena batu atau tumor, untuk itu perlu dilakukan USG abdomen. Kultur urin dilakukan apabila ada kecurigaan infeksi.
  • Prerenal : sangat jarang, apabila pemeriksaan tidak mengarah penyebab renal maupun post renal kemungkinan disebabkan karena prerenal.

 

Semoga bermanfaat

Sumber: Harrison’s Principle of Internal Medicine dan Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

Pemeriksaan Serologi pada Hepatitis B

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada hati yang angka kejadiannya tinggi dan dapat menimbulkan masalah kronis seperti sirosis hepatis dan kanker hati. Diagnosis hepatitis B dikerjakan dengan melakukan tes terhadap beberapa marker serologis dari virus hepatitis B dan dengan menambahkan tes tambahan untuk menyingkirkan penyebab lain seperti virus hepatitis A dan C. Sedangkan untuk penyaring, cukup dilakukan pemeriksaan HBsAg dan Anti HBs.

 

Skema marker serologi hepatitis B (Fauci et al, 2008)

 

HBs Ag

Jika positif, pasien dianggap terinfeksi hepatitis B. Pengulangan tes setelah 6 bulan untuk menentukan infeksi telah sembuh atau kronik. HBsAg positif setelah 6 bulan tetap terdeteksi dalam darah selama lebih dari enam bulan berarti telah menjadi kronis.

Anti HBs

Jika positif, pasien dianggap memiliki kekebalan terhadap hepatitis B  (baik karena infeksi yang telah sembuh atau karena vaksinasi). Hepatitis B karier kronis dapat menunjukkan HBsAg dan Anti HBs positif.  positif untuk HbsAg dan anti HBs pada saat yang bersamaan, tetapi hal ini sangat jarang terjadi (<1%). Jika negatif pasien belum memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B

HBeAg

HBeAg positif berhubungan dengan tingkat infeksi yang tinggi dan pada karier kronik dengan peningkatan resiko sirosis. Tes ini dapat digunakan untuk mengamati perkembangan hepatitis B kronik.

HBV DNA

HBV DNA positif menunjukkan infeksi aktif, bergantung pada  viral load (jumlah virus). Tes ini dapat digunakan untuk mengetahui prognosis dan keberhasilan terapi.

Anti HBc

Jika positif, pasien telah terinfeksi oleh VHB. Infeksi telah sembuh (HBsAg negatif) atau masih berlangsung (HBsAg positif). Jika infeksi telah sembuh,  pasien dianggap  mempunyai kekebalan alami terhadap infeksi VHB. IgM anti HBc mungkin menjadi satu-satunya marker yang dapat terdeteksi selama masa window period ketika HbsAg dan anti-HBs masih negatif.

Anti HBe

Umumnya Anti HBe positif dengan HBeAg negatif menunjukkan tingkat replikasi virus yang rendah. Namun hal ini tidak berlaku pada virus hepatitis B mutan.

Pemeriksaan tambahan

Anti HCV dan Anti HAV untuk menyingkirkan adanya infeksi hepatitis C dan A.

Semoga bermanfaat

 

Dari berbagai sumber

Pemeriksaan CPK dan CKMB pada Serangan Jantung

Serangan jantung tentunya adalah momok yang menakutkan bagi semua orang. Tidak heran, karena di berbagai negara, penyakit ini adalah penyebab kematian nomer satu. Terdapat beberapa pemeriksaan laboratorium sebagai alat diagnosis serangan jantung, antara lain CPK, CKMB, troponin I dan T, dan myoglobin. Pada tulisan kali ini saya akan mencoba membahas tentang pemeriksaan CPK dan CKMB, sedangkan untuk troponin akan saya posting di lain hari.

CPK atau creatine phosphokinase (atau kadang hanya disebut sebagai CK atau creatine kinase) adalah ensim yang dapat ditemukan pada berbagai sel, terutama pada sel otot. Dilihat dari tipenya, ensim ini terdapat pada otot rangka (CK-MM), otot jantung (CK-MB), otak dan usus (CK-BB), dan mitokondria (CK-mt). Apabila terjadi kerusakan pada sel-sel ini, maka ensim CPK akan bocor keluar. Pada saat terjadinya serangan jantung, CPK akan meningkat dalam 4-8 jam, mencapai puncak dalam 18 jam, dan kembali normal dalam 48-72 jam. Pemeriksaan CPK kurang spesifik pada jantung, karena juga meningkat pada penyakit otot rangka, trauma, dan infark serebri.

Sedangkan CKMB, isoensim dari CPK, memiliki tingkat spesifisitas yang lebih tinggi dari CPK. CKMB akan meningkat dalam 3-6 jam setelah terjadi serangan jantung, mencapai puncak dalam 12-24 jam, dan kembali normal dalam 48-72 jam. Selain karena serangan jantung, CKMB juga meningkat pada miokarditis, gagal jantung, dan trauma pada otot jantung.

Yang terpenting adalah mengetahui kapan kedua ensim ini akan meningkat, kapan puncaknya, dan kapan akan kembali normal, sehingga pemeriksaan yang dilakukan memiliki nilai diagnostik dan tidak sia-sia dilakukan. Contohnya, akan percuma jika dilakukan pemeriksaan CKMB pada hari keempat setelah serangan.

Nilai normal:

  • CPK:
  1. Wanita : 40–150 U/L
  2. Pria :  38–174 U/L
  •  CPK-MB : <3% dari CPK

Semoga bermanfaat

 

Sumber: Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, 2008

Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

Pada saat kita periksa darah lengkap, seringkali hasil LED juga keluar tanpa kita mengetahui apa artinya. Apa itu LED? Sesuai namanya, pemeriksaan LED atau laju endap darah (ESR; erythrocyte sedimentation rate) adalah pemeriksaan darah dengan mengukur kecepatan pengendapan dari sel darah merah  pada plasma yang diukur dalam satu waktu tertentu. Pemeriksaan ini tidak spesifik untuk suatu penyakit, jadi banyak sekali keadaan yang dapat meningkatkan nilai LED.

Pada infeksi akut dan kronis, inflamasi, keganasan, dan nekrosis atau infark jaringan akan terjadi peningkatan protein plasma yang menyebabkan sel darah merah memiliki kecenderungan menempel satu sama lain. Hal ini akan meningkatkan berat sel darah merah dan lebih cepat mengendap. Sehingga pada beberapa penyakit tersebut nilai LED akan meningkat. Pada beberapa penyakit, LED dapat digunakan untuk melihat perjalanan penyakit dan memonitor pengobatan. Secara umum, jika penyakit memburuk nilai LED akan meningkat, dan sebaliknya jika penyakit membaik LED turun.

Perlu diingat bahwa nilai LED yang naik tidak melulu karena penyakit. Terdapat beberapa keadaan yang secara normal dapat meningkatkan nilai LED, antara lain kehamilan (setelah minggu ke-12), setelah melahirkan, menstruasi, dan pengobatan dengan metildopa, kontrasepsi oral, penisilamin, dan teofilin.

Nilai normal LED:

  • Pria <15 mm/jam
  • wanita <20 mm/jam
  • anak <10 mm/jam
  • bayi baru lahir 0-2 mm/jam.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber: Diagnostic and Laboratory Test Reference dan Manual of Laboratory and Diagnostic Tests

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.530 pengikut lainnya.