Hasil Lab pada AIHA atau Anemia Hemolitik Autoimun

AIHA (Autoimmune Hemolytic Anemia) atau anemia hemolitik autoimun merupakan anemia yang disebabkan oleh penghancuran eritrosit oleh autoantibodi. Disebut autoantibodi karena tubuh pasien yang memproduksi antibodi melawan eritrositnya sendiri. Penyebabnya adalah adanya kelainan pada saat pembentukan limfosit, sehingga limfosit yang reaktif terhadap antigen eritrosit tetap terbentuk. Terdapat dua macam tipe dari AIHA ini, yaitu tipe warm dan cold, dengan sekitar 70% kasus merupakan tipe warm. Dalam diagnosis AIHA ini diperlukan temuan klinis atau laboratoris adanya hemolisis (pemecahan eritrosit) dan pemeriksaan serologi autoantibodi.

Gejala yang dirasakan oleh penderita AIHA adalah gejala umum anemia (lemah, letih, lesu), seringkali disertai demam dan jaundice (sakit kuning). Urin berwarna gelap sering ditemukan. Pada pemeriksaan fisik bisa ditemukan tanda-tanda jaundice, pembesaran limpa, pembesaran hati, dan pembesaran kelenjar getah bening.

Selain gejala dan tanda tersebut, terdapat beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang dalam diagnosis AIHA. Yang pertama perlu diperiksa adalah DL (darah lengkap) dan hapusan darah. Dari DL bisa dilihat adanya penurunan Hb (anemia) dan hematokrit. Penurunan Hb biasanya berat dengan kadar kurang dari 7 g/dl. Kadar trombosit dan leukosit biasanya masih normal. Bisa juga didapatkan peningkatan jumlah retikulosit. Pada hapusan darah dapat ditemukan bentukan eritrosit yang bervariasi (poikilositosis), sferosit, polikromasi dan kadang autoaglutinasi. Pada pemeriksaan kimia darah didapatkan peningkatan bilirubin indirek dan peningkatan kadar LDH. Sedangkan pada urinalisis bisa ditemukan hemoglobinuria.

Hapusan darah pada penderita AIHA

Autoaglutinasi pada hapusan darah tepi

Terdapat beberapa pemeriksaan serologi untuk mendeteksi adanya autoantibodi pada AIHA, diantaranya adalah Direct Antiglobulin Test (DAT, Direct Coombs Test) dan Indirect Antiglobulin Test (IAT, Indirect Coombs Test). Yang biasa dikerjakan adalah DAT yang mendeteksi adanya autoantibodi (IgG) yang menyelubungi eritrosit. Pemeriksaan DAT pada penderita AIHA menunjukkan hasil yang positif, dimana ditemukan aglutinasi eritrosit.

Direct Coomb’s Test

Hasil DAT positif

Yang perlu diperhatikan, tidak semua penderita AIHA menunjukkan semua gambaran laboratorium tersebut. Bisa saja tidak didapatkan peningkatan bilirubin indirek, tidak ditemukan hemoglobinuria, atau malah pemeriksaan DAT menunjukkan hasil yang negatif. Sehingga penentuan diagnosisnya tetap melihat dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang lain apakah terdapat tanda-tanda hemolisis, juga menyingkirkan penyebab anemia hemolitik yang lain.

Semoga bermanfaat

Sumber: Wintrobe’s Clinical Hematology 12th Edition;

Manual of Clinical Hematology

 

Anemia Aplastik, Sel Darah Turun Semua

Tuan Budi, 62 tahun, sudah tiga bulan ini mengeluh mudah lelah dan lemas tanpa diketahui penyebabnya. Wajahnya terlihat lebih pucat, dan sering tiba-tiba muncul lebam- lebam di tangan dan kakinya . Seminggu terakhir dia juga mengeluh panas badan disertai batuk yang tak kunjung sembuh. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, ternyata dia menderita anemia aplastik. Lalu, apakah anemia aplastik itu? Bagaimana mendiagnosanya?

Anemia aplastik adalah penyakit yang disebabkan sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah baru yang cukup. Penyebabnya kebanyakan adalah idiopatik atau tidak diketahui, dan sisanya karena obat-obatan, bahan kimia, infeksi terutama virus, kehamilan, dan thymoma.

Gejala-gejala yang muncul terutama diakibatkan kurangnya produksi dari eritrosit, leukosit, dan trombosit (disebut juga pansitopenia):

  • anemia: 3L (lemah, letih, lesu), pucat
  • leukopenia (turunnya leukosit) : mudah terserang infeksi
  • trombositopenia (turunnya trombosit) : mudah terjadi kelainan perdarahan. Seperti adanya lebam (bisa ptekiae, ekimosis, atau purpura), mimisan, atau perdarahan lain yang lebih serius.
  • retikulositopenia (turunnya jumlah eritrosit muda)

Hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat ditemukan adalah anemia normokrom normositik, leukopenia terutama neutrofil dan trombositopenia dibawah 150.000/µl. Dari pemeriksaan aspirasi sumsum tulang, ditemukan tanda-tanda kurangnya fungsi sumsum tulang dalam memproduksi sel darah, yaitu saat dilakukan aspirasi hanya sedikit matriks yang terambil dan dari mikroskop terlihat hiposeluler dan didominasi oleh sel lemak.

Gambaran aspirasi sumsum tulang pada anemia aplastik

Pengobatan yang diperlukan oleh pasien bervariasi tergantung derajat penyakitnya, dari transfusi darah, pemberian antibiotik, obat imunosupresi, sampai transplantasi sumsum tulang.

Semoga bermanfaat

Sumber: Manual of Clinical Hematology

Penyebab Anemia karena Penyakit Kronis

Terdapat beberapa diagnosa banding pada anemia karena penyakit kronis, di antaranya :

1. Penyakit hati kronis

Adanya gangguan produksi lipid menyebabkan bentukan sel target, makrositik, dan akantosit pada sel darah merah.  Bila terjadi kehilangan darah akibat perdarahan gastrointestinal, bisa terlihat hipokrom mikrositik. Sedangkan jika terjadi hipertensi portal dapat terlihat makrositik.

2. Keganasan

Ini terjadi bisa dikarenakan infiltrasi sel ganas ke dalam sumsum tulang (myelophthisis), akibat dari terapi yang diberikan seperti kemoterapi dan radioterapi, adanya defisiensi nutrisi, perdarahan gastrointestinal, terjadinya anemia hemolitik, dan hipersplenisme.

 

3. Infeksi

Biasanya disebabkan oleh karena infeksi yang berlangsung lebih dari 1 bulan., di antaranya TB, endocarditis, osteomyelitis, dan abses. Tapi dapat juga pada kasus infeksi yang berlangsung cepat seperti kondisi sepsis.

 

4. Penyakit jaringan ikat

Di antaranya systemic lupus erythematosus (SLE) dan rheumatoid arthritis. Pada SLE juga bisa sekunder karena AIHA atau karena gagal ginjal akibat lupus nephritis.

 

5. Penyakit endokrin

Adrenal insufficiency, hiperparatiroid, hipertiroid, hipopituitarisme, dan hipotiroid.

Semoga bermanfaat

Sumber : Clinician’s Guide to Laboratory Medicine

Beda Hasil Laboratorium Anemia Kurang Besi dan Anemia karena Penyakit Kronis

Anemia kurang besi dan anemia karena penyakit kronis adalah dua dari beberapa diagnosa banding gejala anemia. Keduanya perlu dibedakan karena penatalaksanaannya berbeda. Untuk membedakannya, selain dari wawancara dan pemeriksaan fisik dari dokter, tidak jarang pula diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium.

Pada hapusan darah dapat dibedakan dari morfologi sel darah merah. Apabila pada anemia kurang besi sel darah merahnya hipokromik mikrositik, sedangkan pada anemia karena penyakit kronis normokrom normositik. Akan tetapi perlu diingat bahwa pada fase awal anemia kurang besi masih normokrom normositik, dan sekitar 30-40% pasien dengan anemia karena penyakit kronis menunjukkan sel darah merah hipokrom mikrositik.

Pemeriksaan laboratorium yang lain bisa dilihat pada tabel berikut :

 

Cadangan Fe yang dilihat melalui pemeriksaan BMP merupakan gold standard dalam diagnosa anemia kurang besi.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan mendiagnosa penyakit hanya dari satu parameter, tetapi perhatikan parameter yang lain.

Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Beda Hasil Lab Thalassemia & Defisiensi Fe

Terkadang penderita thalassemia, terutama yang ringan (thalassemia beta trait), sering salah terdiagnosa sebagai anemia defisiensi Fe. Hal ini dikarenakan gejala yang dialami penderita dan gambaran laboratorium, terutama hapusan darah yang hampir sama.

Berbeda dengan thalassemia mayor dengan gejala yang muncul anemia berat sampai facies mongoloid dan gambaran hapusan darah yang sangat bervariasi, pada thalassemia trait, gejala yang timbul kebanyakan hanya berupa anemia ringan dengan gambaran hapusan darah hipokrom mikrositik. Sehingga seringkali kita kesulitan membedakan dan terkadang misdiagnosa.

Untuk meminimalisir kesalahan tersebut, ada sedikit perbedaan yang perlu kita ketahui :

1. kita lihat bagaimana hasil serum iron, TIBC, dan ferritin. Pada thalassemia trait hasil ketiga lab tersebut normal, sedangkan pada anemia defisiensi Fe serum iron dan ferritin mengalami penurunan dan TIBC naik.

2. Dihitung berapakah Mentzer Indexnya. Didapat dari pembagian MCV dengan jumlah eritrosit (MCV/RBC). Apabila hasilnya >13 berarti anemia defisiensi Fe, sedangkan bila <13 berarti thalassemia beta trait.

Semoga bermanfaat.

sumber : Manual Clinical of Hematology

Bagaimana Cara Minum Suplemen Fe (Zat Besi)?

Sebut saja Linda, 22 tahun, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di kotanya. Sudah sekitar satu tahun ini dia sering merasa lemas, cepat capek, dan pucat. Tidak ada gangguan pada siklus menstruasinya. Oleh dokter spesialis penyakit dalam dia didiagnosis menderita anemia defisiensi besi sehingga diberikan suplemen Fe. Suplemen ini berupa pil kombinasi berisi Fe, zinc, dan vitamin. Linda meminumnya sehari 3 kali setelah makan atau kadang setelah minum teh hangat. Namun, setelah sekitar 8 bulan pengobatan tidak ada perubahan yang berarti. Keluhan Linda tetap seperti sebelum diberikan pengobatan. Apakah yang salah?

Sesuai namanya, anemia defisiensi Fe (besi) disebabkan oleh kurangnya kadar Fe di dalam tubuh, dimana Fe merupakan zat yang sangat penting dalam pembentukan hemoglobin. Tahap awal dari penurunan kadar Fe dapat dilihat dari kosongnya cadangan Fe pada sumsum tulang melalui BMP walaupun kadar SI dan TIBCnya masih normal. Cadangan Fe pada laki-laki sekitar 1.000 mg, sedangkan pada wanita bervariasi antara 0-500 mg, dimana sepertiga dari wanita muda yang sehat tidak memiliki cadangan Fe yang memadai. Hal ini disebabkan oleh karena menstruasi dan kehilangan darah waktu bersalin, sehingga wanita lebih rentan menderita anemia defisiensi Fe.

Pengobatan menggunakan zat besi yang dimasukkan secara oral atau langsung melalui pembuluh darah baik itu transfusi maupun lewat infus. Pengobatan secara oral menggunakan garam Fe sederhana (FeSO4) adalah pengobatan pilihan dilihat dari segi keamanan pemakaian dan harganya yang murah. Garam Fe yang dipilih harus yang murni tanpa kombinasi dengan substansi lain dan hindari tablet selaput enteric atau prolonged-release karena Fe tidak dapat diabsorbsi secara efisien.

Pengobatan diminum 3 kali sehari di antara makan. Jadi pada waktu perut kosong, bukan saat setelah makan, yang dapat menghambat penyerapan Fe. Asam lambung dan asam askorbat membantu penyerapan Fe, sehingga minum Fe bisa diiringi dengan minuman jeruk. Sedangkan teh harus dihindari karena menghambat penyerapan. Pengobatan ini diberikan setidaknya selama 6 bulan sampai cadangan Fe kembali. Biasanya total waktu pengobatan sampai sekitar 8 bulan.

Dari sedikit penjelasan di atas, kita bisa tahu apa yang salah dari pengobatan Linda kan?

Semoga bermanfaat.

Sumber : Manual of Clinical Hematology