PSA, Deteksi Kanker Prostat

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya menulis tentang Prostate Specific Antigen atau biasa disebut PSA.

PSA merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh sel kelenjar prostat yang dapat dideteksi dari darah. Pada laki-laki sehat tanpa kelainan prostat, PSA berada pada kadar yang rendah, dan dapat meningkat apabila terdapat kelainan pada prostat seperti BPH (Benign Prostate Hyperplasia), prostatitis, maupun kanker prostat.

Kadar normal PSA berbeda-beda dari tiap sumber, tetapi rata-rata menyebutkan dibawah 4 ng/ml dengan peningkatan pada tiap usia seseorang. Seperti pada lelaki dengan usia di atas 70 tahun, adalah normal memiliki kadar PSA sampai 6 ng/ml. Kadar PSA antara 4 – 10 ng/ml menunjukkan dugaan adanya kelainan pada prostat, walaupun sebagian besar ternyata normal. Kadar di atas 10 ng/ml kemungkinan dugaan ini meningkat secara drastis.

Skrining kanker prostat direkomendasikan dimulai pada usia 50 tahun ke atas setiap tahun.  Skrining dilakukan oleh dokter dengan cara RT (Rectal Touche) atau DRE (Digital Rectal Examination) dan tes PSA.

Yang perlu diingat adalah tidak semua kanker prostat menunjukkan kenaikan pada kadar PSA dan tidak semua kenaikan kadar PSA menunjukkan adanya kanker prostat. Pemeriksaan oleh dokter, baik itu pemeriksaan fisik seperti RT atau pemeriksaan radiologi,  sangatlah penting dalam proses diagnose pada kelainan prostat. Jadi tidak semata-mata dari hasil laboratorium.

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Pap Smear untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang kanker serviks (baca : Terhindar dari Kanker Leher Rahim). Sekarang kita membahas tentang metode skrining untuk mendeteksinya, yaitu Pap smear.

Pap smear atau disebut juga tes Papaniculou adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari usapan serviks. Tes skrining ini terbukti dapat mendeteksi dini terjadinya kanker serviks, sehingga mampu menurunkan insiden kanker serviks yang invasif dan memperbaiki prognosis.

Bagaimana cara dilakukannya Pap smear? Bisa kita lihat pada gambar di bawah ini agar lebih jelas

Anjuran untuk melakukan Pap Smear secara teratur pada :

  • Setahun sekali untuk wanita yang berusia 35 tahun
  • Setahun sekali untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau genital wart
  • Setahun sekali bagi wanita yang memakai pil kontrasepsi/KB
  • Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika dalam pemeriksaan Pap’s Smear sebelumnya berturut-turut 3 kali menunjukkan hasil negative atau untuk wanita yang telah menjalani pengangkatan rahim (histerektomi) bukan karena kanker
  • Sesering mungkin jika hasil Pap Smear menunjukkan hasil tidak normal
  • Sesring mungkin setelah pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Adapun syarat-syarat dilakukannya Pap smear adalah :

  1. Sebaiknya datang di luar mensruasi.  Lebih baik pada 2 minggu setelah hari pertama menstruasi
  2. Selama 24 jam sebelum pemerikasaan tidak diperkenankan melakukan pencucian atau pembilasan vagina dan memakai bahan-bahan antiseptik pada vagina.
  3. Penderita paska bersalin, paska operasi rahim, paska radiasi sebaiknya datang 6-8 minggu kemudian.
  4. Penderita yang mendapatkan  pengobatan lokal seperti vagina supostoria atau ovula sebaiknya dihentikan 1 minggu sebelum pap smear.
  5. Tidak melakukan hubungan seksual selama 24 jam sebelum pemeriksaan.
  6. Tidak menggunakan tampon

Kemungkinan hasil yang tertera nantinya adalah :

  1. Class I    :  Normal
  2. Class II   :  Atypical
  3. Class III  :  Abnormalitas ringan, sedang, atau berat
  4. Class VI  : kanker  insitu, dimana telah terdapat sel kanker tapi belum mencapai lapisan terdalam jaringan
  5. Class V  :  Dugaan kanker invasif yang dapat menginfiltrasi dan merusak jaringan sekitar

Semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Terhindar Dari Kanker Leher Rahim (Ca Cervix)

Kebetulan ketika kemarin saya mampir untuk mengurus rujukan ASKES di RSSA, mengambil beberapa brosur yang menurut saya cukup bermanfaat untuk dibaca. Salah satunya adalah tentang kanker leher rahim. Saya ketik ulang secara singkat agar dapat dibaca oleh yang tidak mendapat brosurnya.

Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.

Penyebab

Penyebab terjadinya belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks :

  1. HPV (Human Papilloma Virus)
  2. Merokok
  3. Melakukan hubungan seksual pertama pada usia dini
  4. Berganti-ganti pasangan hubungan seksual
  5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan, atau pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks
  6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol)
  7. Gangguan sistem kekebalan tubuh
  8. Pemakaian pil kontrasepsi/KB
  9. Infeksi Herpes Genitalis dan Klamidia menahun
  10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap’s Smear secara rutin)

Gejala

Pada keadaan prekanker, gejala dan perubahan tidak terdeteksi kecuali jika dilakukan pemeriksaan panggul dan Pap’s Smear.

Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang tidak normal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala sebagai berikut :

  • Perdarahan pada vagina yang tidak normal terutama di antara 2 menstruasi, setelah hubungan seksual, dan menopause
  • Menstruasi yang tidak normal (waktu lebih lama dan darah lebih banyak)
  • Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink atau coklat, mengandung darah atau hitam, serta berbau busuk

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut :

  • Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, dan sering kelelahan
  • Nyeri panggul, punggung, atau tungkai
  • Keluar air seni atau tinja dari vagina
  • Adanya patah tulang

Diagnosa

1. Pap’s Smear

Pap’s smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus secara akurat dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani pap’s smerar secara teratur yaitu setiap tahun. Jika selama 3 kali pemeriksaan berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap’s smear bias dilakukan 1x/2-3 tahun.

2. Biopsi (pengambilan jaringan)

Dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks atau jika pada Pap’s smear menunjukkan suatu kanker.

3. Kolposkopi

Pemeriksaan serviks dengan bantuan lensa pembesar.

4. Tes Schiller

Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang tidak normal warnanya menjadi putih atau kuning.

Pengobatan

Tergantung pada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi.

1. Pembedahan (operasi)

Operasi pada kanker yang masih terbatas pada lapisan serviks paling luar, seluruh kanker biasanya dapat diangkat dengan pembedahan. Jika pasien tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani pengangkatan rahim (Histerektomi). Pada kanker invasive dilakukan Histerektomi , pengangkatan jaringan di sekitarnya, dan kelenjar getah bening.

2. Radioterapi (terapi penyinaran)

Dilakukan untuk merusak sel kanker dan efektif pada kanker invasive yang masih terbatas pada daerah panggul.

3. Kemoterapi

Dianjurkan pada kanker yang telah menyebar ke luar panggul. Selain membunuh sel kanker, juga menyebabkan kerusakan pada sel yang sehat sehingga sering menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan.

4. Terapi Biologis

Penggunaan zat-zat untuk memperbaiki system kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.

Pencegahan

  1. Mencegah infeksi HPV
  2. Melakukan Pap’s smear secara teratur
  3. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum usia 18 tahun
  4. Tidak berganti-ganti pasangan seksual
  5. Berhenti merokok.

Mengenai Pap’s Smear yang lebih lengkap, saya posting pada tulisan selanjutnya.

Semoga bermanfaat..

Dikutip dari brosur  ASKES