Leukemia, Jarang Tapi Banyak

Deni, anak laki-laki berumur 8 tahun, diantar ayahnya ke Poli Anak RS untuk berobat. Sudah tiga bulan ini dia mengeluh tulang dan persendiannya sakit semua. Dia lemas, mudah lelah dan seringkali demam, sehingga dua bulan terakhir sudah jarang bermain dengan teman-temannya. Selain itu, beberapa minggu terakhir ini juga muncul bintik-bintik merah keunguan di daerah tangan dan kakinya. Bahkan seminggu terakhir gusinya mudah berdarah. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, ternyata ditemukan anemia, dengan peningkatan jumlah leukosit dan penurunan jumlah trombosit yang cukup signifikan. Dokter menganjurkan agar Deni diopname dan dilakukan pemeriksaan pungsi sumsum tulang (BMP). Ternyata hasil pemeriksaan BMP menunjukkan Deni menderita leukemia limfoblastik akut, sehingga harus dilakukan kemoterapi. Vonis leukemia terhadap anaknya ini membuat si ayah syok berat.

Ilustrasi di atas hanya sedikit gambaran kasus yang tidak jarang ditemui di rumah sakit. Leukemia, sebagai salah satu penyakit keganasan, baik itu pada anak dan dewasa, sepertinya jumlahnya semakin meningkat. Mengapa saya tulis pada judul “jarang, tapi banyak”. Karena memang saya sendiri mulai dari masuk pendidikan S1 dokter sampai lulus menjadi dokter umum, jarang sekali atau bahkan tidak pernah mendapatkan kasus leukemia. Sampai saat itu, leukemia hanya menjadi bahan pelajaran yang seakan-akan tidak akan saya temui pada waktu praktek nanti, dan memang jumlah kasus leukemia  jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus penyakit infeksi. Malah kata-kata leukemia hanya sering saya dengar dari sinetron televisi sebagai vonis yang dijatuhkan dokter kepada lakon sinetron seakan-akan sebentar lagi dia akan meninggal.

Namun setelah saya mejalani pendidikan spesialis, pandangan saya berubah. Ternyata kasus leukemia ini tidak jarang ditemukan, atau malah bisa dibilang jumlahnya banyak.. Saya tidak tahu berapa jumlah kasus di seluruh Indonesia, untuk mudahnya saya ambil data saja dari rumah sakit tempat saya saat ini belajar. Dari 108 pasien yang dilakukan pemeriksaan BMP dari bulan Juni – Agustus 2012, ternyata 28 pasien atau 25,9% di antaranya adalah leukemia. Kasarnya setiap tiga hari sekali ditemukan kasus leukemia. Itu pun hanya data dari pemeriksaan BMP, tidak menyertakan jumlah kasus yang ditemukan hanya dari hapusan darah.

Kelompok umur yang sering saya temui yaitu pada anak-anak dan dewasa tua. Seperti pada dua hari yang lalu, ada permintaan pemeriksaan BMP terhadap seorang ibu berusia 42 tahun dengan keluhan lemas dengan hasil darah lengkap (DL) terdapat anemia, peningkatan jumlah leukosit, dan penurunan jumlah trombosit. Setelah dilakukan BMP, ternyata ibu ini menderita leukemia mieloblastik akut. Ada juga pasien berumur 50 tahun dengan hasil DL yang ekstrim, yaitu jumlah leukositnya lebih dari 100.000 (normal 4.000-11.000). Ternyata setelah dilakukan hapusan darah tepi, pasien ini diketahui menderita penyakit leukemia mieloisitik kronis.

Seringkali yang membuat trenyuh pada saat melihat pasien anak kecil dikirim dengan diantarkan ayah atau ibunya untuk dilakukan pemeriksaan BMP. Tidak jarang pasien anak ini datang dengan keadaan yang memang sudah kurang gizi disertai isak tangisnya yang sudah lemah. Dan ketika dilihat hasil BMPnya ternyata mengarah ke leukemia akut. Seperti pada beberapa hari yang lalu datang anak kecil berusia 22 bulan, ternyata menderita leukemia mieloblastik akut. Kadang juga yang membuat heran ternyata pasien yang datang tidak semuanya terlihat sakit, bahkan cenderung segar bugar. Seperti kemarin datang permintaan BMP untuk pemuda berumur 21 tahun, badannya tegap, dan penggemar olahraga. Dia hanya mengeluh akhir-akhir ini mudah lelah. Setelah dilakukan pemeriksaan DL, secara tidak sengaja ditemukan jumlah leukositnya mencapai lebih dari 200.000. Dari hasil BMP pemuda ini didagnosis menderita leukemia mieloblastik akut, sehingga harus menjalani kemoterapi.

Dengan banyaknya kasus leukemia ini khususnya, atau keganasan secara umum, harus membuat kita makin waspada terhadap kesehatan kita. Bahwa kita merasa sehat dan segar selama ini saja belum tentu badan kita benar-benar sehat. Kontrol kesehatan baik itu dengan konsultasi ke dokter keluarga dan melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin sangat dianjurkan, sehingga kita bisa melakukan pencegahan agar tidak terkena penyakit dan jika sudah sakit, kita bisa memonitor agar tidak semakin parah. Tentunya tidak lupa selalu bersyukur terhadap Yang Maha Kuasa akan segala nikmat kesehatan yang telah diberikanNya selama ini.

BTK

Hapusan Darah pada Leukemia Mieloid Kronis (CML)

Leukemia mieloid kronis (CML) merupakan penyakit mieloproliferatif yang ditandai  oleh proliferasi sel mieloid yang berlebihan dengan kemampuan diferensiasi yang masih baik. Terdapat fase kronis dimana pasien tidak menunjukkan gejala klinis. Hal inilah yang sering menyebabkan pasien tidak terdiagnosis lebih awal. Biasanya diagnosis pada fase ini ditemukan kebetulan pada saat dilakukan hapusan darah tepi pada saat pemeriksaan darah karena alasan lain. Setelah beberapa lama fase kronis, hampir semua pasien masuk ke fase akut atau krisis blast (sel muda) dengan tingkat kematian yang lebih tinggi akibat leukemia akut atau berbagai komplikasinya.

Lantas bagaimana cara mendiagnosa pasien dengan CML? Selain melihat gejala dan tanda klinisnya, kita dapat mendiagnosisnya menggunakan hapusan darah tepi. Hal ini tentunya lebih mudah terutama bagi klinisi yang berada di daerah atau sedang PTT tanpa akses pemeriksaan aspires sumsum tulang.

Apa saja yang dapat dilihat dari hapusan darah perifer penderita CML?

Dari hapusan darah di atas, sekilas sudah bisa kita lihat tedapat peningkatan jumlah leukosit yang signifikan. Peningkatan ini pun disertai gambaran leukosit yang berbagai macam bentuknya seperti pasar malam, apa saja ada.

Di atas dapat kita lihat adanya basofil dan berbagai seri mieloid seperti netrofil segmen, netrofil stab, mielosit, metamielosit, dan promielosit.

Peningkatan jumlah eosinofil (sitoplasma berwarna merah) juga dapat ditemukan pada hapusan darah tepi pasien CML.

Sedangkan hapusan darah seperti di atas dapat kita temukan pada pasien CML yang telah mengalami kriss blast. Dapat kita lihat adanya sel muda dari seri mieloid yang berada pada darah tepi, juga disertai adanya seri mieloid yang lain seperti eosinofil, neutrofil, dan metamielosit.

Dari beberapa gambar di atas dapat kita lihat bahwa hapusan darah tepi dari seorang penderita CML sangat khas dengan adanya semua seri mieloid dengan jumlah yang meningkat. Hal ini menggambarkan peningkatan proliferasi sel dan diferensiasi sel yang masih baik, dan berkurangnya apoptosis (kematian sel terprogram).

Semoga bermanfaat